FaridM Writer's

Kebebasan menulis adalah seni

Beranda

Bila saja kegagalan yang dialami saat ini sebuah anugerah yang masih tersembunyi yang sangat berharga untuk menghadapi tantangan di masa depan, ambillah hikmahnya (farid_mawardi_barru@yahoo.com : 2010)

view:  full / summary

PETUNJUK TEKNIS PERSIAPAN IMPLEMENTASI KURIKULUM TAHUN 2013

Posted by Farid Mawardi on June 28, 2013 at 10:10 PM Comments comments (0)



Klik link di bawah ini untuk unduh file (.pdf) :


Petunjuk Teknis Persiapan Implementasi Kurikulum Tahun 2013


sumber : ditpsmk.net

PIMNAS, BUDAYA DAN MURI

Posted by Farid Mawardi on April 4, 2013 at 1:35 AM Comments comments (0)

Tari pendet yang dimainkan 1.650 wanita dari berbagai kelompok usia meraih penghargaan Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai tarian massal dengan penari terbanyak. "Jumlah penarinya terhitung paling banyak dalam suatu pegelaran tari massal selama ini," kata pengurus MURI Paulus Pangka, usai menyerahkan menghargaan tersebut di GOR Ngurah Rai Denpasar, Bali.

 

Penghargaan MURI tersebut diberikan kepada Rektor Universitas Saraswati Denpasar Tjok Istri Sri Ramaswati dan Ketua Yayasan Perguruan Saraswati I Gusti Gede Anom, masing-masing selaku penyelenggara dan penggagas tarian massal itu. Tarian itu digelar untuk memeriahkan pembukaan Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) XXIII yang berlangsung di Pulau Dewata.

 

Menteri Pendidikan Nasional Muhammad Nuh dan 21.301 mahasiswa utusan dari 113 perguruan tinggi di Indonesia yang ambil bagian dalam Pimnas juga menyaksikan atraksi massal itu. Dengan diiringi alunan gamelan Bali yang melibatkan 40 penabuh dari Yayasan Saraswati Denpasar, para penari begitu lentur dan kompak dalam setiap formasi dan konfigurasi yang ditampilkan.

Tari pendet pernah diklaim sebagai milik Malaysia yang tayangkan pada sebuah stasiun televisi sebagai upaya promosi pariwisata bagi negara tersebut. Padahal yang sesungguhnya, kata Nyoman Cerita, tari pendet terlahir dan berkembang di Bali.

Dari catatan yang ada, tari pendek digagas dua seniman kelahiran Desa Sumertha, Kota Denpasar, yakni I Wayan Rindi dan Ni Ketut Reneng. Kedua seniman itu yang pertama kali mencetuskan tari pendet dengan menampilkan empat orang penari wanita,

Surat Ketua MUI untuk Fatin Shidqia Lubis

Posted by Farid Mawardi on April 2, 2013 at 8:00 AM Comments comments (0)



Fatin Shidqia Lubis. Nama itu tiba-tiba menjadi sangat populer, bukan hanya karena suara khasnya dikenal publik melalui X Factor Indonesia, tetapi juga karena ia satu-satunya finalis berjilbab dalam ajang kompetisi di bidang tarik suara itu. Karena berjilbab itulah, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat KH. A. Cholil Ridwan menulis surat nasehat untuk Fatin, baru-baru ini. Berikut isi suratnya:


Ananda Fatin Shidqiya Lubis di X Factor.Assalaamualaikum. Bapak sering menonton penampilan Fatin di X Factor, bapak dan keluarga bangga dengan kamu yang tetap berjilbab dalam penampilanmu ikutan di X Factor. Bapak sebagai Ketua MUI Pusat yang membidangi Seni dan Budaya ingin berpesan untuk Fatin sebagai berikut: Pada suatu saat Fatin akan dihadapkan pilihan, jilbab atau karier. Misalnya akan ada yang membisikan Fatin dengan kalimat; “Kalau mau menang jadi juara I kamu harus copot jilbab!” atau “kalau mau ikut nyanyi di luar negeri kamu harus copot jilbab”, Bapak pesan jangan sekali-kali kamu jual akidahmu demi karier duniawimu. Dan jauhi pergaulan negatif.

 

Surat Ketua MUI untuk Fatin Shidqia Lubis

Jangan tinggalkan sholat lima waktu dengan alasan apapun, kalau terpaksa boleh di akhir waktu. Dan kalau betul-betul darurat bisa dijamak.Kepada umat Islam, khususnya muslimah yang sudah berjilbab dan anggota Hijabers, setiap Fatin mau tampil di “X Factor” dukunglah, niatkan untuk da’wah dan syiar Jilbab.

 

Rumus jilbab itu 3T yaitu Tidak buka aurat, Tidak transparan, dan Tidak ketat.

 

Terima kasih atas perhatian Fatin dan salam buat kedua orang tuamu. Wassalam


 

KH. A. Cholil Ridwan

Ketua MUI Pusat Bidang Seni Buday


Demikian Surat Ketua MUI untuk Fatin Shidqia Lubis seperti dipublikasikan Info Padang™ 




GAYA KEPEMIMPINAN

Posted by Farid Mawardi on March 28, 2013 at 2:20 AM Comments comments (0)

 

  • Gaya Kepemimpinan 3 (Tiga) Dimensi Reddin (1969)


Reddin menggambarkan efektifitas kepemimpinan dalam 3 (tiga) hal pokok (tiga kotak), pendelatan ini disebut model 3 (tiga) dimensi,

 

  1. Gaya Eksekutif, yaitu pemimpin banyak memberikan perhatian pada tugas-tugas pekerjaan da hubungan kerja. Pemimpin yang menggunakan ini disebut motivator yang baik, mau dan mampu menetapkan standar kerja yang tinggi, mau mengenal perbedaan karakteristik individu, mau menggunakan kerja tim dalam manajeman.
  2. Gaya Pecinta Pengembangan, yaitu pemimpin memberikan perhatian maksimal pada hubungan kerja dan minimal terhadap tugas. Pemimpin yang menggunakan gaya ini mempunyai kepercayaan implicit terhadap orang-orang yang bekerja dalam birokrasi dan sangat memperhatikan pengembangan individu.
  3. Gaya Otokratis Yang Baik Hati, yaitu pemimpin memberikan perhatian yang maksimal pada tugas dan hubungan kerja. Pemimpin yang menggunakan gaya ini mengetahui secara tepat yang diinginkan dan cara mencapainya tanpa menyebabkan keengganan pihak bawahannya.
  4. Gaya Pecinta Kompromi, yaitu pemimpin memberikan yang maksimal pada tugas dan hubungan kerja berdasarkan kompromi. Pemimpin yang menggunakan gaya ini sangat tertarik kepada aturan-aturan dan mengontrol pelaksanaannya secara teliti.
  5. Gaya Birokrat, pemimpin memberikan perhatian yang sangat besar pada tugas pekerjaan dan hubungan kerja berdasarkan kompromi. Pemimpin yang menggunakan gaya ini merupakan pembuat keputusan yang jelek karena banyak tekanan bawahan yang mempengaruhinya.
  6. Gaya Missionari, pemimpin memperhatikan maksimal pada hubungan kerja dan minimal terhadap tugas. Gaya ini hanya menilai keharmonisan sebagai tujuan dirinya sendiri.
  7. Gaya Lari Dari Tugas, pemimpin sama sekali tidak memberikan perhatian pada tugas dan hubungan kerja. Gaya ini tidak peduli pada tugas dan orang lain.

 

(Sumber: pasolong, Harbani. 2010. Kepemimpinan Birokrasi. Bandung: Alfabeta. Hlm 43-45)

 

  • Gaya Kepemimpinan Situasional

 


Gaya kepemimpinan situasional cenderung tidak tetap karena berasumsi, tidak satu pun gaya kepemimpinan yang tepat dalam segala kondisi. Oleh karena itu, gaya kepemimpinan situasional akan menerapkan gaya tertentu berdasarkan pertimbangan, seperti pemimpin, pengikut, dan situasi (seperti tugas, kekuasaan, dinamika kelompok). Pendekatan gaya ini cenderung mempertimbangkan tujuan jangka pendek

Ciri-ciri Kepemimpinan Bertipe Situasional:

 

  1. Supel atau luwes
  2. Berwawasan luas
  3. Mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan
  4. Mampu menggerakkan bawahan
  5. Bersikap keras pada saat-saat tertentu
  6. Berprinsip dan konsisten terhadap suatu masalah
  7. Mempunyai tujuan yang jelas
  8. Bersikap terbuka bila menyangkut bawahan
  9. Mau membantu memecahkan permasalahan bawahan
  10. Mengutamakan suasana kekeluargaan
  11. Berkomunikasi dengan baik
  12. Mengutamakan produktivitas kerja
  13. Bertanggung jawab
  14. Mau memberikan tanggung jawab pada bawahan
  15. Memberi kesempatan pada bawahan untuk mengutarakan pendapat pada saat-saat tertentu
  16. Melakukan atau mengutamakan pengawasan melekat
  17. Mengetahui kelemahan dan kelebihan bawahan
  18. Mengutamakan kepentingan bersama,
  19. Bersikap tegas dalam situasi dan kondisi tertentu
  20. Mau menerima saran dan kritik dari bawahan


Diskusikan Gaya Kepemimpinan berorientasi pada tugas dengan beriorentasi pada pekerja atau pegawai berdasarkan teori stoner (1996)?


Gaya Kepemimpinan yang cocok digunakan oleh seorang pemimpin yaitu : gaya kepemimpinan yang berorientasi pada pekerja. Artinya : menggunakan gaya kepemimpinan yang sesuai dengan kondisi pekerja/pegawai yang ada di lingkungan. Keuntungannya dari gaya kepemimpinan ini Fleksibel (tidak kaku) dan kita kenal dengan gaya kepemimpinan situsional.  

KEPEMIMPINAN

Posted by Farid Mawardi on March 28, 2013 at 1:50 AM Comments comments (0)


Kepemimpinan adalah suatu gejala universal yang secara defacto sudah ada sejak waktu yang lama dalam sejarah umat manusia dan dijalankan dalam kurun yang panjang. Namun demikian, pada sisi lain, kepemimpinan sebagai suatu ilmu usianya baru kurang lebih seratus enam puluh tahun.


Stogdill (1974) menyimpulkan bahwa banyak sekali definisi mengenai kepemimpinan. Hal ini dikarenakan banyak sekali orang yang telah mencoba mendefinisikan konsep kepemimpinan tersebut. Namun demikian, semua definisi kepemimpinan yang ada mempunyai beberapa unsur yang sama.


Sarros dan Butchatsky (1996), "leadership is defined as the purposeful behaviour of influencing others to contribute to a commonly agreed goal for the benefit of individual as well as the organization or common good". Menurut definisi tersebut, kepemimpinan dapat didefinisikan sebagai suatu perilaku dengan tujuan tertentu untuk mempengaruhi aktivitas para anggota kelompok untuk mencapai tujuan bersama yang dirancang untuk memberikan manfaat individu dan organisasi. Sedangkan menurut Anderson (1980) "leadership means using power to influence the thoughts and actions of others in such a way that achieve high performance".


Berdasarkan definisi-definisi di atas, kepemimpinan memiliki beberapa implikasi. Antara lain:

Pertama: kepemimpinan berarti melibatkan orang atau pihak lain, yaitu para karyawan atau bawahan (followers). Para karyawan atau bawahan harus memiliki kemauan untuk menerima arahan dari pemimpin. Walaupun demikian, tanpa adanya karyawan atau bawahan, kepemimpinan tidak akan ada juga.

Kedua: seorang pemimpin yang efektif adalah seseorang yang dengan kekuasaannya (his or herpower) mampu menggugah pengikutnya untuk mencapai kinerja yang memuaskan.


Menurut French dan Raven (1960), kekuasaan yang dimiliki oleh para pemimpin dapat bersumber dari pesepsi :

  1. Reward power, yang didasarkan atas persepsi bawahan bahwa pemimpin mempunyai kemampuan dan sumberdaya untuk memberikan penghargaan kepada bawahan yang mengikuti arahan-arahan pemimpinnya.
  2. Coercive power, yang didasarkan atas persepsi bawahan bahwa pemimpin mempunyai kemampuan memberikan hukuman bagi bawahan yang tidak mengikuti arahan-arahan pemimpinnya.
  3. Legitimate power, yang didasarkan atas persepsi bawahan bahwa pemimpin mempunyai hak untuk menggunakan pengaruh dan otoritas yang dimilikinya.
  4. Referent power, yang didasarkan atas identifikasi (pengenalan) bawahan terhadap sosok pemimpin. Para pemimpin dapat menggunakan pengaruhnya karena karakteristik pribadinya, reputasinya atau karismanya.
  5. Expert power, yang didasarkan atas persepsi bawahan bahwa pemimpin adalah seeorang yang memiliki kompetensi dan mempunyai keahlian dalam bidangnya. misalnya mempunyai keahlian di bidang tertentu.

Para pemimpin dapat menggunakan bentuk-bentuk kekuasaan atau kekuatan yang berbeda untuk mempengaruhi perilaku bawahan dalam berbagai situasi.


Ketiga: kepemimpinan harus memiliki kejujuran terhadap diri sendiri (integrity), sikap bertanggungjawab yang tulus (compassion), pengetahuan (cognizance), keberanian bertindak sesuai dengan keyakinan (commitment), kepercayaan pada diri sendiri dan orang lain (confidence) dan kemampuan untuk meyakinkan orang lain (communication) dalam membangun organisasi. Walaupun kepemimpinan (leadership) seringkali disamakan dengan manajemen (management), kedua konsep tersebut berbeda.


Perbedaan antara pemimpin dan manajer dinyatakan secara jelas oleh Bennis and Nanus (1995). Pemimpin berfokus pada mengerjakan yang benar sedangkan manajer memusatkan perhatian pada mengerjakan secara tepat ("managers are people who do things right and leaders are people who do the right thing, "). Kepemimpinan memastikan tangga yang kita daki bersandar pada tembok secara tepat, sedangkan manajemen mengusahakan agar kita mendaki tangga seefisien mungkin.

Macam-macam Asesmen

Posted by Farid Mawardi on March 24, 2013 at 7:25 AM Comments comments (0)


Asesmen merupakan proses mendokumentasikan pengetahuan, keterampilan, sikap dan keyakinan peserta didik untuk memperoleh informasi tentang apa yang diketahui, dilakukan dan dikerjakan peserta didik.


Macam-macam asesmen, yaitu:

1. Asesmen formatif dan sumatif

Asesmen sumatif=> Dilaksanakan di akhir pembelajaran dan digunakan untuk membuat keputusan tentang kenaikan kelas peserta didik.

Asesmen formatif=> Dilaksanakan selama proses pembelajaran berlangsung. Wujudnya berupa pemberian balikan atas pekerjaan peserta didik dan tidak dijadikan dasar penentuan kenaikan kelas.

Dalam konteks belajar asesmen sumatif dan normatif disebut dengan asesmen belajar.

2. Asesmen obyektif dan subyektif

Asesmen obyektif=> Bentuk pertanyaan yang memiliki satu jawaban benar.

Asesmen subyektif=> Bentuk pertanyaan yang memiliki lebih dari satu jawaban benar.

3. Asesmen acuan patokan dan acuan normatif

Asesmen acuan patokan=> Asesmen yang digunakan untuk mengukur kemampuan peserta didik berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya menggunakan tes acuan patokan.

Asesmen acuan normatif=> Asesmen yang menggunakan tes acuan normatif dan tidak digunakan untuk mengukur kemampuan peserta didik berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya. Asesmen ini dikenal dengan penentuan rangking berdasarkan kurve normal.

4. Asesmen formal dan informal

Asesmen formal=> Diwujudkan dalam bentuk dokumen tertulis dan diberikan skor dalam bentuk angka atau penentuan rangking berdasarkan kinerja peserta didik.

Asesmen informal=> Dilakukan dengan cara yang lebih terbuka seperti observasi, inventori, diskusi yang tidak dimaksudkan untuk menentukan rangking.

5. Asesmen autentik (Asesmen kineja)

Asesmen berbasis kinerja merupakan bentuk ujian di mana peserta didik menjawab suatu pertanyaan atau membuat produk dan mendemonstrasikan ketrampilan atau menampilkan kemampuan/pengetahuan. Wujudnya antara lain:

  • Tugas membuat proyek secara individual atau kelompok - eksperimen ilmiah
  • Contoh tulisan atau karangan - portofolio
  • Memecahkan masalah terbuka - simulasi komputer
  • Pertanyaan yang membutuhkan konstruksi jawaban - wawancara atau presentasi lisan

 Tahap-tahap asesmen kinerja adalah:

  •  Mengidentifikasi hasil pembelajaran.
  • Mengembangkan tugas-tugas untuk menemukan tujuan pembelajaran.
  • Mengidentifikasi hasil belajar tambahan yang di dukung oleh tugas.
  • Merumuskan kriteria dan tingkat kinerja untuk mengevaluasi kinerja peserta didik.

 

6. Asesmen portofolio

Asesmen portofolio merupakan bentuk evaluasi kinerja yang paling populer. Biasanya berbentuk file atau folder yang berisi koleksi karya peserta didik.

Tahap-tahap asesmen portofolio adalah:

a. Perencanaan dan pengorganisasian

  • Mengembangkan perencanaan portofolio yang bersifat fleksibel.
  • Merencanakan waktu secukupnya agar peserta didik mempersiapkan dan mendiskusikan aspek-aspek portofolio.
  • Dimulai dengan satu aspek belajar dan hasil belajar peserta didik, kemudian semakin meningkat sejalan dengan apa yang dipelajari peserta didik.
  • Memilih aspek yang dimasukkan di dalam portofolio yang mampu menunjukkan kemajuan peserta didik atau penguasaan tujuan pembelajaran.
  • Memilih setidaknya dua aspek, yakni indikator yang diperlukan atau aspek-aspek inti dan sampel pekerjaan yang dipilih.
  • Menempatkan daftar tujuan di depan masing-masing portofolio. Bersamaan dengan indikator yang dipersyaratkan dan tempat mencatat aspek-aspek pilihan.

b. Implementasi

  • Melekatkan perkembangan aspek-aspek portofolio di dalam kegiatan kelas yang sedang berlangsung.
  • Memberikan tanggung jawab kepada peserta didik untuk mempersiapkan, memilih, menilai dan menyimpan portofolionya sendiri.
  • Membagi aspek-aspek portofolio yang telah dipilih.
  • Mencatat komentar pendidik dan peserta didik dengan segera terhadap portofolio tersebut.

c. Hasil

  • Menganalisis aspek-aspek portofolio untuk memahami pengetahuan dan keterampilan peserta didik.
  • Menggunakan informasi portofolio itu untuk mendokumentasi kegiatan-kegiatan belajar peserta didik, untuk disampaikan kepada orang tua dan memperbaiki pembelajaran di kelas

Pembagian Kelompok Asesment

Posted by Farid Mawardi on March 24, 2013 at 7:05 AM Comments comments (0)



Daftar Nama Pembagian Kelompok Asesmen

 

  1. Macam-macam Asesmen pembelajaran (Raodatul Jannah & Farid)
  2. Acuan Penilaian pembelajaran (Jumadin & Rosihan Aminuddin)
  3. Syarat-syarat tes yang baik (Sannai Abbas & H. Rusdi Palemai)
  4. Pengembangan tes kognitif (Bhilal & Iswahyuni)
  5. Pengembangan tes psikomotorik (Alam, Ahmad & Imha)

 

Salam sukses ^_^


We Are Pendidikan Teknologi Kejuruan 

Universitas Negeri Makassar 

 

Asesmen

Posted by Farid Mawardi on March 23, 2013 at 1:35 PM Comments comments (0)


Asesmen adalah proses mengumpulkan informasi dan membuat keputusan berdasarkan informasi (Blaustein, D. et al. dalam Sudjana; 2008). Hal ini dilakukan guru untuk mengumpulkan informasi perkembangan proses belajar mengajar dalam pencapaian tujuan pembelajaran.

Asesmen dapat dikategorikan menjadi 2 jenis yaitu :

 

Asesmen Konvensional

biasanya menggunakan paper and pencil test atau disebut dengan asesmen formal atau asesmen konvensional. Disebut demikian karena metode inilah yang biasa digunakan oleh guru. Metode paper and pencil test hanya dapat mengukur kemampuan kognitif peserta didik namun belum dapat mengukur hasil belajar peserta didik secara holistik.

Soal-soal tes tradisional dibagi menjadi 2 tipe yaitu selected response items (soal pilihan ganda dan benar-salah, memungkinkan siswa memilih jawaban di antara alternatif yang tersedia) dan constructed-response item (esai atau jawaban pendek mengisi titik-titik, mengharuskan siswa memberikan jawabannya sendiri).

 

Asesmen Berbasis Kinerja

Asesmen ini menginginkan siswa dapat mengerjakan tugas tertentu seperti menulis esai, melakukan eksperimen, menginterpretasi solusi untuk masalah atau menggambarkan sesuatu. Siswa mengerjakan beragam tugas selama beberapa hari, bukan tugas yang dapat diakses beberapa menit. Hal ini merupakan upaya mengukur berbagai macam keterampilan dan proses intelektual yang kompleks. Asesmen kinerja bisa dalam bentuk portofolio siswa atau penilaian dalam proses belajar mengajar misalkan dalam kerja kelompok, eksperimen, atau diskusi kelompok.

 


Setelah memahami prosedur penilaian, kemudian akan dibahas bagaimana mengembangkan alat ukur.

Penilaian pendidikan pada umumnya menggunakan tes. Tes dapat berbentuk lisan , tes tulis, dan tes perbuatan. Dalam pendidikan yang menggunakan kurikulum berbasis kompetensi, maka kompetensi siswa yang diharapkan berupa kemampuan atau kompetensi yang bersifat kognitif, afektif, maupun psikomotor. Oleh karena itu pengembangan alat ukur yang dibahas mencakup tiga aspek tersebut. Penjelasan dan prinsip-prinsip penyusunan tiap jenis tes dibahas secara rinci, karena bukan hanya untuk dipahami tetapi juga untuk dapat diaplikasikan.


Pengembangan instrumen kognitif mencakup tes objektif, tes nonobjektif, tes unjukkerja, dan portofolio.


Tes lisan di kelas


Pertanyaan lisan dapat digunakan untuk mengetahui taraf serap peserta didik untuk masalah yang berkaitan dengan kognitif. Pertanyaan yang diajukan di kelas harus jelas. Semua peserta didik harus diberi kesempatan yang sama. Prinsip yang perlu diperhatikan dalam memberikan pertanyaan lisan di kelas adalah: mengajukan pertanyaan, memberikan waktu untuk berpikir, menunjuk peserta didik untuk menjawab pertanyaan. Benar atau salah, jawaban peserta didik tersebut ditawarkan lagi kepada kelas. Tingkat berpikir yang ditanyakan lisan di kelas cenderung rendah: seperti pengetahuan dan pemahaman.


Tes objektif


 

  • Pilihan ganda

 

Pedoman utama dalam pembuatan soal bentuk pilihan ganda adalah:

 

  1. Pokok soal harus jelas
  2. Pilihan jawaban homogen dalam arti isi
  3. Panjang kalimat pilihan jawaban relatif sama
  4. Tidak ada petunjuk jawaban benar
  5. Menghindari penggunaan pilihan jawaban: semua benar atau semua salah
  6. Pilihan jawaban angka diurutkan
  7. Semua pilihan jawaban logis
  8. Tidak menggunakan bentuk negatif ganda
  9. Kalimat yang digunakan sesuai dengan tingkat perkembangan peserta tes
  10. Menggunakan bahasa Indonesia yang baku
  11. Letak pilihan jawaban benar ditentukan secara acak

 


Uraian objektif


Bentuk soal uraian objektif sangat tepat digunakan untuk bidang Matematika dan IPA, karena kunci jawabannya hanya satu. Pengerjaan soal ini melalui suatu prosedur atau langkah-langkah tertentu. Setiap langkah ada skornya. Objektif di sini dalam arti apabila pekerjaan tes diperikasa oleh beberapa guru dalam bidang studi tersebut hasil penyekorannya akan sama. Pertanyaan pada bentuk soal ini di antaranya adalah: hitunglah, tafsirkan, buat simpulan dan sebagainya.


Menjodohkan


Soal bentuk menjodohkan terdiri atas suatu premis, suatu daftar kemungkinan jawaban dan suatu petunjuk untuk menjodohkan. Masing-masing premis itu dengan satu kemungkinan jawaban. Biasanya nama, tanggal/tahun, istilah, frase, pernyataan, bagian dari diagram, dan yang sejenis digunakan sebagai premis. Hal-hal yang sama dapat pula digunakan sebagai alternatif jawaban. Kaidah pokok penulisan soal jenis ini adalah sebagai berikut:

 

  1. Soal harus sesuai dengan indikator
  2. Jumlah alternatif jawaban lebih banyak daripada premis
  3. Alternatif jawaban harus “nyambung” atau berhubungan secara logis dengan premisnya
  4. Rumusan kalimat soal harus komunikatif
  5. Menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar

 


Jawab singkat


Bentuk jawab singkat ditandai dengan adanya tempat kosong yang disediakan bagi peserta tes untuk menuliskan jawabannya sesuai dengan petunjuk. Ada 3 jenis soal bentuk ini yaitu: jenis pertanyaan, melengkapi, dan jenis identifikasi atau asosiasi. Kaidah utama penyusunan soal bentuk jawab singkat ini sebagai berikut:

 

  1. Soal harus sesuai dengan indikator
  2. Jawaban yang benar hanya satu
  3. Rumusan kalimat harus komunikatif
  4. Menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar

 


Tes nonobjektif: uraian nonobjektif


Tes ini dikatakan nonobjektif karena penilaian dipengaruhi oleh subjektivitas penilai. Peserta tes dituntut untuk menyampaikan, memilih, menyusun, dan memadukan gagasan yang telah dimiliki dengan menggunakan kata-katanya sendiri. Keunggulan tes ini mudah dibuat, dan dapat mengukur tingkat berpikir dari tingkat rendah sampai tinggi, dari pengetahuan hafalan sampai evaluasi. Meskipun perlu dihindari pertanyaan yang mengungkap hafalan yang menggunakan pertanyaan: apa, siapa, di mana.

Kelemahan bentuk tes uraian nonobjektif adalah:

 

  1. Penyekoran dipengaruhi oleh subjektivitas penilai
  2. Pemeriksaan lembar jawaban memerlukan waktu yang lama
  3. Cakupan materi yang diujikan sangat terbatas
  4. Ada efek bluffing (gertakan!?)

 

Untuk mengatasi kelemahan ini maka perlu diusahakan:

 

  1. Jawaban tiap soal tidak panjang, sehingga dapat mencakup materi yang lebih banyak.
  2. Waktu pemeriksaan tidak melihat nama peserta didik
  3. Memeriksa tiap butir secara keseluruhan tanpa istirahat.
  4. Menyiapkan pedoman penyekoran.

 

Adapun langkah-langkah menyusun tes nonobjektif adalah:

 

  1. Menulis soal berdasarkan kisi-kisi pada indikator
  2. Mengedit pertanyaan:
  • Apakah pertanyaan mudah dimengerti?
  • Data yang digunakan benar?
  • Tata letak secara keseluruhan baik?
  • Pemberian bobot skor sudah baik/tepat?
  • Kunci jawaban sudah benar?
  • Waktu untuk mengerjakan tes cukup?

Kaidah penulisan tes nonobjektif adalah sebagai berikut:

 

 

  1. Menggunakan kata-kata: mengapa, uraikan, jelaskan, bandingkan, tafsirkan, hitunglah, buktikan.
  2. Menghindari kata: apa, siapa, bila.
  3. Menggunakan bahasa Indonesia yang baku
  4. Menghindari penggunaan kata-kata yang dapat ditafsirkan ganda
  5. Membuat petunjuk pengerjaan soal yang jelas
  6. Membuat kunci jawaban
  7. Membuat pedoman penyekoran.

 

Penyekoran bentuk tes ini dapat dilakukan secara analitik dan global. Analitik berarti penyekoran dilakukan secara bertahap sesuai kunci jawaban. Global artinya dibaca secara keseluruhan untuk mengetahui ide pokok dari jawaban soal, baru diberi skor.


Tes unjuk kerja


Penilaian unjuk kerja sering disebut dengan penilaian autentik atau penilaian alternatif. Tes unjuk kerja bertujuan untuk mengetahui tingkat kemampuan peserta didik dalam menyelesaikan masalah-masalah kehidupan nyata. Penilaian unjuk kerja berdasarkan analisis pekerjaan. Hasilnya dapat digunakan untuk perbaikan proses pembelajaran sehingga peserta didik mencapai tingkat kemampuan yang diinginkan. Tes unjuk kerja banyak digunakan pada mata pelajaran yang ada prakteknya.


Bentuk tes ini digunakan untuk mengukur status peserta didik berdasarkan hasil kerja dari suatu tugas. Pertanyaan pada tes unjuk kerja berdasarkan pada tuntutan masyarakat atau lembaga lain yang terkait dengan pengetahuan yang harus dimiliki peserta didik. Jadi pertanyaannya cenderung pada tingkat aplikasi suatu prinsip atau konsep pada situasi yang baru. Walaupun uraian namun batasnya harus jelas, dan ditentukan berdasarkan tuntutan kebutuhan masyarakat. Permasalahan yang diujikan sedapat-dapatnya sama dengan masalah yang ada dalam masyarakat atau dalam kehidupan nyata. Dan inilah yang menjadi ciri utama perbedaan antara tes unjuk kerja dengan bentuk yang tradisional.


Portofolio


Portofolio adalah kumpulan tugas-tugas peserta dididk. Portofolio merupakan salah satu bentuk penilaian autentik, yaitu menilai keadaan yang sesungguhnya dari peserta didik. Portofolio cocok digunakan untuk penilaian di kelas tetapi tidak cocok untuk penilaian dalam skala yang luas. Hal yang penting pada penilaian portofolio adalah: mampu mengukur kemampuan membaca dan menulis yang lebih luas, peserta didik mampu menilai kemajuannya sendiri, mewakili sejumlah karya seseorang.


Penilaian portofolio pada dasarnya adalah menilai karya-karya individu untuk suatu mata pelajaran tertentu. Semua tugas yang dikerjakan peserta didik dikumpulkan pada akhir suatu program pembelajaran misalnya satu semester, kemudian diadakan diskusi antara peserta didik dan guru untuk menentukan skornya. Prinsip penilaian portofolio adalah peserta didik dapat melakukan penilaian sendiri kemudian hasilnya dibahas. Bentuk ujian cenderung uraian dan tugas-tugas rumah. Karya yang dinilai meliputi hasil ujian, tugas mengarang atau mengerjakan soal.


Penilaian dengan portofolio mempunyai karakteristik tertentu sehingga penggunaannya harus sesuai dengan tujuan dan substansi yang diukur. Mata pelajaran yang memiliki banyak tugas dan jumlah peserta didik sedikit, penilaian dengan cara portofolio lebih cocok.


Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan penilaian portofolio adalah:

 

  1. Memastikan karya yang dikumpulkan benar-benar karya yang bersangkutan
  2. Menentukan contoh pekerjaan yang harus dikumpulkan
  3. Mengumpulkan dan menyimpan hasil karya
  4. Menentukan kriteria untuk menilai portofolio
  5. Meminta peserta didik untuk menilai terus-menerus hasil portofolionya
  6. Merencanakan pertemuan dengan peserta didik yang dinilai
  7. Mengusahakan dapat melibatkan orangtua dalam menilai portofolio

 


Pola Penyelenggaraan Pendidikan di SMK

Posted by Farid Mawardi on July 17, 2012 at 6:05 AM Comments comments (0)

Pola Penyelenggaraan Pendidikan di SMK dapat menerapkan berbagai pola penyelengaraan pendidikan yang dapat dilaksanakan secara terpadu yaitu pola pendidikan sistem ganda (PSG), multi entry-multi exit (MEME), dan pendidikan jarak jauh.


1) Pola pendidikan sistem ganda (PSG)

PSG adalah pola penyelenggaraan diklat yang dikelola bersama-sama antara SMK dengan industri/ asosiasi profesi sebagai institusi pasangan (IP), mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan, hingga tahap evaluasi dan sertifikasi yang merupakan satu kesatuan program dengan menggunakan berbagai bentuk alternatif pelaksanaan, seperti day release, block release, dsb. Durasi pelatihan di industri dilaksanakan selama 4 (empat) bulan s.d. 1 (satu) tahun pada industri dalam dan atau luar negeri. Pola pendidikan sistem ganda diterapkan dalam proses penyelenggaraan SMK dalam rangka lebih mendekatkan mutu lulusan dengan kemampuan yang diminta oleh dunia industri/usaha


2) Pola multi entry-multi exit

Pola multi entry-multi exit, sebagai perwujudan konsep pendidikan dengan sistem terbuka, diterapkan agar peserta didik dapat memperoleh layanan secara fleksibel dalam menyelesaikan pendidikannya. Dengan pola ini, peserta didik di SMK dapat mengikuti pendidikan secara paruh waktu karena sambil bekerja atau mengambil program/kompetensi di berbagai institusi pendidikan antara lain SMK, lembaga kursus, diklat industri, politeknik, dan sebagainya.


sumber : kurikulumkhusus.wordpress.com

 

Masalah Pendidikan Kejuruan

Posted by Farid Mawardi on July 17, 2012 at 5:35 AM Comments comments (0)

Permasalahan yang dihadapi dalam pendidikan kejuruan dapat dilihat dari berbagai aspek yaitu 

Manajemen Kurikulum

  • Standar isi

Ada perbedaan persepsi dalam menjabarkan Permen Diknas no. 22 tentang Standar Isi ke dalam silabus selain itu belum adanya standar isi (SK dan KD) yang tetap untuk mata pelajaran produktif (program keahlian) SMK. Adanya penambahan materi pelajaran normatif dan adaptif pada struktur kurikulum kurang mendukung materi kejuruan serta tidak adanya standar isi (SK & KD) untuk mata pelajaran dasar kejuruan yang mendukung program keahlian. Beban belajar Perbandingan alokasi waktu tatap muka, praktik sekolah dan praktik industri (1:2:4) berimplikasi pada penyediaan waktu lebih banyak dari yang diamanatkan pada standar isi \ (mengakomodasi jumlah jam perminggu maksimal 40 jam)

  • Standar kelulusan

Terdapat standar kelulusan yang berbeda antara standar kelulusan ujian nasional dan standar kelulusan mata pelajaran normatif dan adaptif

  •  Implementasi Kurikulum

Sebagian warga sekolah belum memahami mengenai standar isi, substansinya dan implementasinya kedalam Kurikulum. Struktur kurikulum dan beban belajar sebagai penjabaran Permen Diknas 22dianggap masih terlalu sarat beban yang berdampak pada penambahan jam ruang lingkup adaptif dan normatif.

  • Bahan Ajar

Belum tercukupinya bahan ajar yang dapat memenuhi standar kompetensi  lulusan baik secara kuantitatif, kualitatif dan relevansi.

  • Buku Referensi

Masih terbatasnya buku referensi yang di gunakan sehingga kurang membentuk budaya membaca dalam proses belajar mengajar. 

  • Administrasi Pembelajaran

Silabus & RPP belum tersusun berdasarkan analisis kebutuhan sekolah dan keunggulan lokal. Belum terlaksanakannya kalender akademik dalam memfasilitasi tercapainya standar kompetensi lulusan.

  • Proses Pembelajaran

Belum terlaksana proses pembelajaran yang sesuai dengan standar isi, standar proses dan standar kelulusan.

  • Assesment 

Sebagian guru belum melaksanakan sistem penilaian sesuai tuntutan Kurikulum.


Organisasi dan Manajemen sekolah

  1. Organisasisekolah maksimal sehingga Belum seluruh sekolah dalam menyusun visi dan misi denganmelibatkan seluruh komponen sekolah.
  2. Belummenerapkan system manajemen mutu atau Quality ansurance
  3. Keterbatasandana untuk melakukan penyusunan Kurikulum, Silabus, RPP.
  4. Belummemiliki program peningkatan mutu


Ketenagaan

  • Kepalasekolah,

Kepala sekolah tidak terbiasa mandiridalam mengambil keputusan, dan lemah dalam memobilisasi sumber daya sekolah.

  • TenagaKependidikan

Keterbatasan penguasaan IT dan aksesinformasi renaga kependidikan.

  • Guru

Mentalitas guru yang terbiasa menunggu instruksi untuk melaksanakan sesuatu, terbiasa dengan pola seragam dankurangnya kreativitas.

    1. Guru kurang menguasai dalam menjabarkanstandar isi.
    2. Keterbatasan guru untuk mata pelajaran baru
    3. Tolok ukur kompetensi guru pada bidangyang diampunya belum terstandar.

 

Sarana Prasarana

  1. Keterbatasan ruang belajar untuk “moving class”
  2. Keterbatasan ruang lab untuk mendukung pencapaian standar kompetensi lulusan
  3. Keterbatasan fasilitas peralatan untuk memenuhi standar isi.
  4. Keterbatasan bahan ajar dan bahan praktik sesuai dengan standar isi
  5. Keterbatasan peralatan media
  6. Keterbatasan jumlah judul, banyak buku, dan akses ke perpustakaan maya.

 

Pembiayaan

Besarnya alokasianggaran untuk operasional sekolah sesuai dengan tuntutan Kurikulum baik daripemerintah pusat maupun pemerintah daerah masih relative terbatas.  Relevansi alokasi anggaran baik pemerintahpusat maupun pemerintah daerah masih relatif rendah bila dikaitkan dengantuntutan pelaksanaan standar isi, standar proses dan standar kelulusan. Kepeduliandan kemampuan masyarakat dalam peran sertanya yang terkait dengan pembiayaanpendidikan masih relatif rendah.


Peserta Didik

Tingkatkemampuan bekal ajar siswa yang masuk ke SMK sebagaian besar masih relatifrendah bila dilihat dari prasyarat untuk mengikuti pembelajaran sesuai denganprogram keahlian yang dipilih. Tingkat kedisiplinan sebagian siswa SMK masihrelatif rendah, hal ini ditunjukkan oleh tingginya tingkat kenakalan dan penyalahgunaan narkoba.

 

Peranserta Masyarakat

Peranserta institusi pasangan (dunia usaha dan dunia industri) dalam pelaksanaanpembelajaran untuk bidang produktif masih relatif rendah bila dikaitkan dengantuntutan pelaksanaan standar isi, standar proses dan standar kelulusan. Jaringankerjasama antara sekolah dan institusi pasangan (dunia usaha dan duniaindustri) dalam upaya untuk optimalisasi pemanfaatan sumber belajar sesuaidengan tuntutan pelaksanaan standar isi, standar proses dan standar kelulusan masih relatif rendah.

 

Lingkungan dan Kultur Sekolah

Mentalitas wargasekolah yang terbiasa menunggu instruksi untuk melaksanakan sesuatu, terbiasadengan pola seragam dan kurangnya kreatifitas dalam menjalankan perannya sesuaidengan tuntutan Kurikulum. Adanya sebagian warga sekolah (pendidik dan tenagakependidikan) yang masih relatif belum memiliki kemandirian/otoritasprofesional dalam menjalankan perannnya melaksanakan kurikulum sesuai dengantuntutan, jiwa dan karakteristik dari kurikulum tersebut.

 

Unit Produksi

Belum berfungsinya secara optimal baik secara kuantitas, kualitas dan relevansi keberadaan unit produksi di sekolah bila dikaitkan dengan upaya sebagai pendukung penguatan pelaksanaan standar isi, standar proses dan standar kelulusan. Belum optimalnya pengelolaan unit produksi di sekolah bila dikaitkan dengan prinsip-prinsip wirausaha yang lebih berorientasi pada kemandirian, pelaksanaan teaching industry dan memberikan income generating bagi pemberdayaan dan penguatan lembaga sekolah dalam memenuhi tuntutan pelaksanaan kurikulum.

 

Temukan jelas bayang wajahmu pagi ini

Posted by Farid Mawardi on February 20, 2012 at 9:10 PM Comments comments (0)


Menatap cakrawala dunia

Melayang menembus waktu

Sayap mengepak dalam angan

Terbang lewati pancaran langit

Rindu menanti doa

Redupkan jiwa dalam raga

Hati terasa memisah

Menembus cahaya kedamaian

Kulihat ilalang menghijau

Kulukis langit sebiru hati

Angin menuntun arah

Temukan jelas bayang wajahmu pagi ini



Akhir Penantian

Posted by Farid Mawardi on February 20, 2012 at 6:15 PM Comments comments (0)


Nyanyian ombak losari

Dibalik samudera jiwa

Syahdu getarkan sukma

Temukan pelipur lara

Kekasih di ujung senja


Anak Angin

Posted by Farid Mawardi on February 13, 2011 at 11:05 AM Comments comments (0)


Berdiri di ujung hari

Menanti di antara tebing kehidupan

Menjaga raga yang kini terbaring

Memeluk jiwa di atas pusara


Wahai anak angin

Lantunkan nyanyian alam

Menari mekarkan bunga

Mengelilingi pusaran angin

Menanti keajaiban


Takkala matahari tenggelam

Awan kelam bekukan nadi

Lembut mengiris Jiwa

Sangsakala berbisik

Ikhlaskan kepergiannya

 


Optimalisasi Potensi Intelektual Mahasiswa dalam Meredam Aksi Anarkis

Posted by Farid Mawardi on February 11, 2011 at 2:05 AM Comments comments (0)

Optimization of Students’ Intellectual Potential in Overcoming Anarchist Actions

 

Farid Mawardi, Asnan Rijal Salam

Department of Electrical Engineering, Makassar StateUniversity

 

 

ABSTRACT:

 

Students who studying at a college oruniversity is treated as intelectual communities. One of student roles and functions is as an agent of change whose task is to provide solutions to problems of one nation. In general, most of student’s actions, namely the demonstration ended with violence and anarchists. Although the numbers are not up tothousands, sometimes it results in huge damage. In fact, in itself there are many student’s potential which most of them do not know and do not use it wisely to solve their problems. In fact, currently, it shows that there is a lack of  students’ funtion to analyse problems especially in usingtheir criticalthinking skills. The aim of this paper is to determine how to optimize the intellectualpotential of students to overcome the anarchic action. Various research have beencarried out to show how important the intellectual potential ofstudents. A student cansolve problems, make decisions, and makeconsiderations by applying critical thinking skills. From the data obtained, thewriter may propose the idea which is: a student should be carefully optimizing his/her intellectual potential by establishing and developing critical behaving and thinking in early ages both in internal and external environment. This can develop individuals who are active, responsive, capableof solving problems or addressing the actual condition in society critically and creating a more orderly action without disturbing to other community interests in their actions.

 

Keywords: Optimization, Critical Thinking, Anarchist Action


 


Yang Kami Temui

Posted by Farid Mawardi on February 9, 2011 at 9:05 AM Comments comments (0)

Kalian tak tahu apa yang kami rasakan

Tapi, kalian tahu apa yang kami butuhkan

Menjerit-jerit di bawah terpaan mentari

Meneguk cucuran keringat menembus waktu

: Bukan mengharap belas kasih


Menanti bersama sebotol air hambar

Kue manis berbungkus koran penyedap rasa

Bercanda bersama melukis senyuman

Menangis torehkan luka

: Kami rindukan manusia dermawan


Entah apa yang kalian fikirkan

Sapaan manis

Tatapan kosong

Uluran tangan

Hati tertegun

: Kami malu pada kalian





Dies Natalis Universitas Negeri Makassar

Posted by Farid Mawardi on October 8, 2010 at 5:25 AM Comments comments (6)

 

Universitas Negeri Makassar (UNM), memperingati Dies Natalis ke-49, pada Senin 1 Agustus 2010. Para undangan yang Hadir pada puncak peringatan Dies Natalis UNM adalah Sekretaris Provinsi Sulawesi Selatan, H. A. Muallim, Ketua dan Anggota Muspida Provinsi Sulsel, Dewan Penyantun UNM, Sekretaris dan Anggota Senat Universitas, Ketua dan Sekretaris Dewan Guru Besar, pemimpin PTN dan PTS, Pembantu Rektor, Dekan, dan Direktur PPs UNM, Pemimpin Lembaga dan Unit Pelaksana Teknis, dosen, pegawai, dan mahasiswa UNM.

 

Pada puncak peringatan Dies Natalis UNM, diserahkan penghargaan kepada mahasiswa UNM yang menorehkan prestasi pada berbagai bidang : Ayu Ariandani, mahasiswa Jurusan Kepelatihan, Angkatan 2009, berhasil meraih Juara I Kejurnas Atletik Lempar Lembing tahun 2010 di Jakarta, dan mewakili Sulsel ke Pelatnas di Jakarta. Arianto, mahasiswa Jurusan Penj askesrek FIK, meraih Juara III Circuit Anggar Nasional 2010 di Jakarta. Saiful, mahasiswa Jurusan Fisika F MIPA, angkatan 2006, meraih juara I Olimpiade Sains di bidang Fisika Tingkat Regional Wilayah Timur, Rezki Pratiwi, Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Inggeris FBS, angkatan tahun 2006, berhasil meraih beasiswa 4 bulan, pada Program Pertukaran Pemuda antar negara Australia-Indonesia.


Rektor UNM juga menganugerahkan penghargaan kepada 9 Finalis Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional XXIII Tahun 2010, Denpasar, Bali, masing-masing; Hartoto, dari FIP, Irfan Arnol, mahasiswa FIP, Harianti Hamid, dari FIP, Akbar Mappiare, mahasiswa F MIPA, Rezky Ariyany Aras, mahasiswa F Psikologi, Nur Ilmiah Djalal, mahasiswa F MIPA, Farid Mawardi Mahasiswa Pendidikan Teknik Elektro (UNM) Universitas Negeri Makassar, Asnan Rijal Salam, mahasiswa FT, dan Wahyuddin, M. Y., mahasiswa F Teknik.



Penantian

Posted by Farid Mawardi on October 2, 2010 at 8:40 AM Comments comments (1)


Dalam Penantian

Dalam Penantian ini 

Tak kukirim surat tak juga bunga


Penantian. . . .

Semua manusia yang normal dan mewati fase kedewasaan

Hampir dipastikan pernah melewatinya

Bukan dari tulang ubun ia dicipta,

sebab berbahaya membiarkannya dalam sanjungan dan puja . .

Tidak dari tulang kaki, karena nista menjadikannya diinjak dan diperbudak . .

Tetapi dari rusuk kiri dekat di hati untuk dicintai, dekat ditangan untuk dilindungi . .


Untukmu yang mengerti bahasa Qalbu ...



Belajar Ikhlas

Posted by Farid Mawardi on February 6, 2010 at 7:25 AM Comments comments (3)



Suatu hari seorang bapak tua hendak menumpang bus.Pada saat ia menginjakkan kakinya ke tangga, salah satu sepatunya terlepas dan jatuh ke jalan. Lalu pintu tertutup dan bus mulai bergerak dengan cepat, sehingga ia tidak mungkin ia bisa memungut sepatu yang terlepas tadi. Lalu si bapak tua itu dengan tenang melepas sepatunya yang sebelah dan melemparkannya keluar jendela.


Seorang pemuda yang duduk dalam bus melihat kejadian itu, dan bertanya kepada si bapak tua, "Aku memperhatikan apa yang Anda lakukan Pak. Mengapa Anda melempakan sepatu Anda yang sebelah juga ?" Si bapak tua menjawab, "Supaya siapapun yang menemukan sepatuku bisa memanfaatkannya."


Si bapak tua dalam cerita di atas memahami filosofi dasar dalam hidup -jangan mempertahankan sesuatu hanya karena kamu ingin memilikinya atau karena kamu tidak ingin orang lain memilikinya. Kita kehilangan banyak hal di sepanjang masa hidup. Kehilangan tersebut pada awalnya tampak seperti tidak adil dan merisaukan, tapi itu terjadi supaya ada perubahan positif yang terjadi dalam hidup kita.


Kalimat di atas tidak dapat diartikan kita hanya boleh kehilangan hal-hal jelek saja. Kadang, kita juga kehilangan hal baik. Ini semua dapat diartikan: supaya kita bisa menjadi dewasa secara emosional dan spiritual, pertukaran antara kehilangan sesuatu dan mendapatkan sesuatu haruslah terjadi.


Seperti si bapak tua dalam cerita, kita harus belajar untuk melepaskan sesuatu. Tuhan sudah menentukan bahwa memang itulah saatnya si bapak tua kehilangan sepatunya. Mungkin saja peristiwa itu terjadi supaya si bapak tua nantinya bisa mendapatkan sepasang sepatu yang lebih baik.


"Satu sepatu hilang. Dan sepatu yang tinggal sebelah tidak akan banyak bernilai bagi si bapak. Tapi dengan melemparkannya ke luar jendela, sepatu gelandangan yang membutuhkan. "Berkeras mempertahankannya tidak membuat kita atau dunia menjadi lebih baik. Mungkin memang pedih pada awalnya... mungkin butuh bulan berbilang tahun untuk menyeka bening yang terkadang masih mengalir.... Namun kebahagiaan memang tak selamanya... dan kesedihan takkan mengembalikan apa yang telah berlalu...


Kita semua harus memutuskan kapan suatu hal atau seseorang masuk dalam hidup kita, atau kapan saatnya kita lebih baik bersama yang lain. Pada saatnya, kita harus mengumpulkan keberanian untuk melepaskannya. " Semoga kita bisa menjadi orang yg ikhlas yang tetap masih bisa memberikan senyum terindah kita.


farid mawardi publis 6 Februari 2010


Jamilah dan Jenderal Jepang

Posted by Farid Mawardi on February 3, 2010 at 10:35 AM Comments comments (5)


Suatu ketika Negara Indonesia berperang melawan Negara Jepang. Para Tentara Jepang menculik Wanita-wanita Indonesia dan menjadikannya Budak. Salah satu dari Mereka adalah Seorang Istri Panglima yang sangat cantik. Ia bernama Jamilah. Suatu ketika Jendral itu tewas sewaktu ingin menyelamatkan Jamilah. Kini Jamilah menjadi Seorang Janda dan menjadi Budak oleh Jepang. Jamilah tidak sandiri, beberapa Teman Jamilah juga menjadi Budak oleh Jepang. Sewaktu Karizu Onazawa baru tiba, dia berjalan-jalan ke tahanan bawah tanah dan melihat Jamilah. Karizu Onazawa adalah Seorang Jendral Jepang yang sangat tampan dan sangat setia kepada Negaranya. Sejak Karizu pertama kali melihat Jamilah, dia langsung terpukau dengan kecantikan Jamilah. Setiap kali teman-teman Jamilah dipaksa bekerja keras di hutan, Jamilah hanya disuruh menemani Karizu. Bahkan ada beberapa Teman-teman Jamilah yang iri dengan Jamilah.


Suatu hari Teman Jamilah mengintip di sebuah lubang kecil di dinding kamar Karizu, Dia melihat Jamilah sedang bermesraan dengan Karizu, tapi Teman Jamilah ketahuan oleh penjaga di sekitar kamar Karizu. Teman Jamilah ditangkap dan dirantai, malahan penjaga tersebut memaksa Teman Jamilah untuk melakukan perbuatan yang tidak senono. Apabila teman Jamilah menolak, maka tentara Jepang tidak segan-segan membunuh Teman Jamilah. Satu demi satu teman Jamilah menjadi korban dari Tentara Jepang.


Suatu ketika salah satu Teman Jamilah berhasil melarikan diri dari markas Jepang dan memberi tahukan kepada Tentara Indonesia, bahwa Tentara Jepang menyandra Wanita-wanita Indonesia. Para Tentara Indonesia menyusun siasat untuk menjebak Tentara Jepang. Dengan bantuan Jamilah para Tentara Indonesia dapat lebih mudah menjebak Tentara Jepang.


Hari demi hari berlalu, Karizu dan Jamilah sudah menjalin cinta yang mendalam. Bahkan Jamilah telah mengandung Anak Karizu. Mereka berdua berencana membesarkan anak yang di kandung Jamilah bersama-sama, bahkan mereka sudah mempersiapkan nama untuk anak itu, apabila anaknya laki-laki akan diberi nama Karizu dan apabila anaknya Perempuan akan di beri nama Jamilah. Mereka bardua pun akhirnya menikah di markas Jepang. Para teman Jamilah juga ikut serta menyaksikan pernikahan Jamilah. Salah satu teman Jamilah berteriak-teriak menghina Jamilah, tapi peluru pistol langsung mengenai kepalanya. Jamilah pun merasa bersalah kepada teman-temannya. Jamilah akhirnya mengatur strategi untuk membebaskan teman-temannya yang di tahan di tahanan bawah tanah.


Karena Jamilah mempunyai kekuasaan di markas Jepang, Jamilah diam-diam pergi dan tidak dicurigai sedikit pun oleh penjaga. Jamilah pergi ke markas tentara Indonesia mengatur strategi dengan tentara Indonesia. Setelah mereka mengatur strategi, Jamilah langsung kembali ke markas tentara Jepang.


Keesokan harinya tentara Indonesia menyerang markas tentara Jepang, sedang Jamilah malah bersenang-senang dengan Karizu, ternyata Jamilah memasukkan obat tidur ke dalam minuman Karizu sehingga Karizu tertidur. Setelah tentara Jepang mulai lengah Jamilah langsung membebaskan teman-temannya yang di tahan di tahanan bawah tanah. Tentara Indonesia bertempur mati-matian melawan tentara Jepang dan akhirnya tentara Indonesia menang. Setelah Karizu terbangun dia melihat markas tentara Jepang hancur. Karizu merasa putus asa karena ia sangat setia pada negaranya. Ia kemudian mengambil sebuah samurai yang tergeletak di depannya dan menusukkan samurai itu ke perutnya. Jamilah kemudian berlari memeluk Karizu dan berpesan kepada Jamilah agar menjaga anak Karizu dan membesarkan anak itu menjadi anak yang bertanggung jawab dan setia pada negaranya. Karizu pun tersenyum untuk yang terakhir kalinya. Jamilah kemudian mengangkat jasad karizu naik kepunggung seekor kuda dan pergi entah kemana. Sejak saat itu tidak satu pun orang yang melihat entah kemana jamilah pergi.

 


♥HANYA INGIN KAU TAHU♥

Posted by Farid Mawardi on January 2, 2010 at 9:25 PM Comments comments (10)

Hari-hari yang ku lewati tanpamu terasa kosong.

Cinta sejati yang terucap dalam manisnya kata.

Cinta abadi yang terukir dalam indahnya kebersamaan.

Akan selalu terkenang dalam sanubari.




Music Lyrik :


PERGI / ALPHA


Hilang semua harapan

Yang ku dambakan selalu

Pada saat itu

Hanya karena soal itu

Kau marah padaku

Tinggalkan diriku

Biarkanlah semua berlalu

Lupakanlah Semuanya

Pergi . . .


Memang kuakui

Ini semua salahku padamu

Yang tak pernah bersamamu

Namun janganlah kau pergi

Begitu saja

Tinggalkan diriku sendiri


Maafkanlah semua ini

Dan berikan Kepadaku

Satu Kesempatan


 

Comment :


Cinta??? apa ya,, huhuhuhu,,, cinta itu adalah keikhlasan,ketulusan, untuk memberi. Cinta sejati  adalah ketika kita mampumemberikan kebahagiaan untuknya meski itu terkadang menyakitkan bwt kita. Ketika dia jujur mencintai seseorang, dengan penuh keikhlasan, kesabaran dan ketegaran maka berkatalah "saya turut bahagia mendengarnya". 


Cinta sejati itu pasti ada. Sekalipun kita tidak bisa memilikinya.


Cinta, bukan hanya bisa membuat hati kita tersenyum, tertawa,dan bahagia. Jangan katakan benci, kalau hati kita terluka, dan tetesair mata mengalir. Cinta yang sesungguhnya adalah sebuah perasaan yang tak bisa kita tebak. Kadang Cinta sejati itu ada dekat di samping kita. Memberikan perhatiannya dengan tulus seakan mencoba memberikan pesona untuk  menunjukkan  perasaannya. Tapi, jangan menyerah jika dia terlambat menyadarinya. Yakin, cinta tdk akan lari kemana. Cinta sejati adalah Fitrah Allah SWT yang akan kita jalani nantinya. Ia telah memberikan segala sesuatunya sempurna, dengan segala kebaikanya. Allah menciptakan manusia, yang sepadan dengannya dan menciptakannya untuk berpasang-pasangan.

 



Rss_feed